Iran Diserang Habis-habisan sampai Khamenei Tewas, di Mana Rusia?
Hubungan diplomatik antara Rusia dan Iran kini tengah menjadi sorotan tajam setelah serangan besar-besaran Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi.
Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas di tengah serangan AS dan Israel tersebut.
Meski dikenal sebagai sekutu dekat, Moskwa dinilai hanya memberikan dukungan yang bersifat simbolis dan verbal di saat Teheran berada dalam titik nadir.
Ketika bom-bom mulai berjatuhan, diplomat tinggi Teheran segera menghubungi Moskwa, sebagaimana dilansir Politico.
Namun, berdasarkan pernyataan resmi Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov hanya menawarkan simpati dan janji dukungan verbal kepada Iran.
Kondisi ini menempatkan Iran sebagai negara terbaru setelah Suriah dan Venezuela yang merasakan langsung apa arti sebenarnya dari kemitraan dengan Rusia: dukungan retorika yang kuat, namun minim aksi nyata di lapangan saat krisis memuncak.
Pola ketidakhadiran Rusia
Sejak meluncurkan perang skala penuh di Ukraina empat tahun lalu, Kremlin kerap mencitrakan dirinya sebagai pemimpin dunia "multipolar" yang melawan hegemoni Barat.
Namun, dalam momen-momen krusial ketika para pemimpin sekutunya terdesak, respons Rusia di lapangan justru terlihat lemah.
Presiden Suriah Bashar al-Assad telah merasakan hal ini pada akhir 2024, ketika dukungan Rusia gagal menjamin kelangsungan rezimnya saat pasukan pemberontak merangsek masuk ke ibu kota, Damaskus.
Hal serupa menimpa Nicolas Maduro dari Venezuela, yang kini mendekam di sel penjara AS sejak awal tahun ini.
Teranyar, nasib tragis menimpa Khamenei. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan di Teheran tersebut.
Kejadian ini mempertegas jurang pemisah antara retorika besar Kremlin dengan realitas di lapangan, di mana hegemoni AS justru semakin terlihat nyata.
Batasan traktat
Secara formal, Rusia memang tidak memiliki kewajiban untuk terjun langsung membela Iran.
Meski keduanya menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada April 2025, kesepakatan tersebut tidak memuat klausul pertahanan bersama.
"Saya ingin menekankan bahwa penandatanganan perjanjian tersebut tidak berarti pembentukan aliansi militer dengan Iran atau bantuan militer timbal balik," tegas Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko kepada Parlemen Rusia atau Duma.
Kesenjangan komitmen ini terlihat kontras jika melihat bantuan Iran yang selama ini memasok drone dan rudal untuk perang Rusia di Ukraina.
Namun bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, faktor Israel menjadi pertimbangan utama yang menghambat keterlibatan militer Rusia di Teheran.
Dalam Forum Ekonomi St Petersburg pada Juni 2025, Putin sempat membela sikap "netral" Rusia.
Dia menyoroti keberadaan setidaknya dua juta mantan warga Uni Soviet yang kini menetap di Israel.
"Negara itu (Israel) hampir menjadi negara berbahasa Rusia hari ini. Dan kami tentu saja mempertimbangkan faktor tersebut," ujar Putin saat itu.
Narasi penyelamatan reputasi
Meski kegagalan untuk mengintervensi serangan di Iran menjadi pukulan telak bagi reputasi global Rusia, Moskwa mencoba memutar balik situasi tersebut untuk kepentingan domestik dan diplomasinya.
Para pejabat Kremlin mulai mengarahkan kritik tajam kepada Barat. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev melalui unggahannya di media sosial X, menyindir peran Trump.
"Sang 'juru damai' beraksi lagi. Pembicaraan dengan Iran hanyalah kedok. Semua orang tahu itu," tulis Medvedev.
Senada dengan itu, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Fyodr Lukyanov, menyebut bahwa diplomasi dengan Trump kini menjadi hal yang sama sekali tidak berguna.
Di sisi lain, pengamat politik Rusia dari University College London, Vladimir Pastukhov, menilai situasi di Teheran justru akan memperkeras posisi Putin terkait perang di Ukraina.
"Akan sulit meyakinkan Putin bahwa dia pernah salah (mengenai bahaya Barat). Kepada mereka yang ragu, dia akan menunjuk ke Teheran dan berkata: 'Itu bisa saja menimpa kita'," tulis Pastukhov melalui Telegram.
Kini, Moskwa tampaknya berharap agar sekutu-sekutunya yang tersisa lebih fokus pada pesan "bahaya pengkhianatan Barat" dibandingkan meratapi ketidakhadiran militer Rusia saat Iran digempur habis-habisan. (Kompas.com)
Foto 1: Hubungan diplomatik antara Rusia dan Iran kini menjadi sorotan tajam di tengah eskalasi konflik setelah serangan militer besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. (TribunNetwork)
Foto 2: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas di tengah serangan AS dan Israel tersebut. (TribunNetwork)
Foto 3: Moskwa dinilai hanya memberikan dukungan yang bersifat simbolis dan verbal di saat Teheran berada dalam titik nadir. (Tim)